Sunday, July 17, 2011

Revitalisasi Stasiun Tugu Semakin Nyata

Posted by Kalih Hari Suwarno 7:13 AM, under | No comments

Pengembangan Stasiun Tugu Yogyakarta, menemukan titik lanjut. Berdasarkan pertemuan yang dilakukan pada bulan Februari lalu, antara PT. Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) dengan pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Pemerintah kota Yogyakarta, dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman kerjasama (Memorandum of Understanding (MoU)) yang dilakukan Senin (11/7). Penandantanganan MoU diadakan di Gedung Kepatihan Kegubernuran DIY, ditandangani langsung oleh Direktur Utama PT. KAI, Ignasius Jonan, Gubernur Propinsi DIY, Sultan Hamengkubuwono X, perwakilan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Haryo Pangeran Wahono Sapto Kriyo, dan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto.
 
 
Direktur Utama PT. KAI, Ignasius Jonan (kiri), dan perwakilan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Haryo Pangeran Wahono Sapto Kriyo (kanan) menandatangani MoU Revitalisasi dan Pengembangan Stasiun Tugu Yogyakarta disaksikan oleh Gubernur Propinsi DIY, Sultan Hamengkubuwono X (kedua kiri), serta Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto (kedua kanan) yang sebelumnya sudah menandatangani MoU ini.
 
 
Penandatanganan MoU Stasiun Tugu Yogyakarta ini, semakin mendekatkan langkah semua pihak untuk merevitalisasi sub kawasan ini menjadi sebuah meeting point yang terpadu. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan DIY secara umum dan stasiun ini pada khususnya sebagai saksi dari perjalanan sejarah Negara Republik Indonesia. Selain itu, per tahunnya, perkembangan jumlah penumpang kereta api (KA) di stasiun ini menunjukkan trend yang positif dengan angka 10 sampai 17 persen. Dan diperkirakan tahun depan akan meningkat.
Peningkatan jumlah penumpang ini, dipandang perlu untuk dilakukan pembenahan fasilitas dan lingkungan yang lebih baik. Kawasan ini, nantinya akan diintegrasikan dengan jalan Malioboro yang juga merupakan daerah destinasi wisata di kota ini. Seperti yang dijelaskan oleh Jonan, kesepakatan untuk menata kawasan ini, tidak akan menghilangkan dan merubah bentuk bangunan Stasiun Tugu yang juga menjadi salah satu cagar budaya milik bangsa ini.
“Arsitektur bangunan Stasiun Tugu memiliki paduan seni budaya Keraton dan Eropa yang memiliki daya tarik tersendiri, sehingga Stasiun Tugu dijadikan bangunan cagar budaya,” ujar Jonan. Ia menambahkan, jika revitaliasasi kawasan Stasiun ini segera terealisasi, maka ini merupakan pengembangan yang pertama dilakukan bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. “Kami memprioritaskan pengrevitalisasian Stasiun Tugu dikarenakan kultur masyarakat Yogya yang turut menjaga kereta api serta semakin meningkatnya jumlah penumpang KA baik yang naik maupun yang turun di stasiun ini,” tegasnya.

Bangunan Stasiun Tugu tidak akan dihilangkan maupun dirubah bentuknya, mengingat Stasiun ini masuk dalam Bangunan Cagar Budaya yang mesti dilestarikan.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan Hamengkubuwono X mengungkapkan dengan adanya revitalisasi stasiun ini, akan semakin menunjang menggeliatkan kegiatan ekonomi kawasan Yogyakarta. “Saya menyambut baik penandatanganan kesepakatan bersama ini, dengan harapan agar sebelum MoU ini berakhir dalam 12 bulan mendatang, tim bersama yang dibentuk sudah bisa menghasilkan pra studi kelayakan yang memadai sebagai dasar acuan perencanaan dan pengembangan pembangunan,” tutur Sultan Hamengkubuwono X.
“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan melimpahkan berkah serta rahmatnya, dengan MoU ini dapat direalisasi tepat waktu, tepat tuju, tepat harga, dan tepat mutu, serta memberik manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar dan warga Yogyakarta pada umumnya,” harap Sultan Hamengkubuwono X. Kawasan terpadu Stasiun Tugu, juga akan diintegrasikan dengan jalan Malioboro yang juga sebuah destinasi unggulan wisata di Yogyakarta. Selain itu, di kawasan terpadu ini akan dibangun juga lahan parkir yang mampu menampung dalam jumlah besar. Sehingga mampu memecah kemacetan yang sering terjadi di jalan Malioboro, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. (Humaska)

2014, Jalur Utara Jawa Seluruhnya Double Track

Posted by Kalih Hari Suwarno 7:11 AM, under | No comments

Jalur Rel pantai utara Pulau Jawa saat ini yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya, hanya sebagian yang memiliki jalur ganda. Pada tahun 2014 nanti, jalur sepanjang 830 km semuanya akan menjadi double track atau jalur ganda. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono ketika inspeksi kesiapan jalur ganda di Stasiun Semarang Tawang, Selasa (5/7). Dalam inspeksi ini, Wamenhub didampingi oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian, Tundjung Inderawan serta beberapa perwakilan dari instansi terkait.

Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono (duduk depan kiri) didampingi Direktur Jenderal Perkeretaapian, Tundjung Inderawan (duduk belakang) serta beberapa orang lainnya, menginspeksi kesiapan jalur ganda antara Jakarta - Surabaya. Rombongan menggunakan KAIS Wijayakusuma dari Jakarta menuju Semarang.

“Kita tadi melihat, bagaimana langkah-langkah yang mesti kami lakukan, khususnya dalam mempercepat double tracking di pantai utara pulau jawa, antara Cirebon – Semarang, Semarang – Surabaya, agar 2013 semuanya sudah kita selesaikan, sehingga 2014 sudah beroperasi dengan pola double track,” tutur Bambang sesaat setelah turun dari Kereta Api Inspeksi (KAIS) Wijayakusuma. Bambang menjelaskan, dengan adanya pola double track ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas kereta api di jalur utara Jawa, baik untuk membawa penumpang maupun mengangkut barang. “Kita juga ingin membagi beban jalan, karena saat ini, angkutan barang 90 persennya menggunakan jalan raya,” terangnya.
Ia menambahkan di beberapa titik sudah dilakukan pengerjaan double track antara Cirebon dan Semarang. “Kita sudah melihat pengerjaan fisik, dan saya kira secara bertahap semuanya akan kita selesaikan, insya Allah dalam dua tahun anggaran dengan pola multi years yang nantinya pada 2014 bisa digunakan,” ujarnya.
Senada dengan Wamenhub, Tundjung mengemukakan pola pendanaan multi years lewat APBN akan digunakan dalam pembiayaan pembangunan double track ini. “Secara total yang dibutuhkan untuk menyelesaikan double track ini sekitar 9 trilyun. Untuk tahun ini kita diberikan 2.8 trilyun,” ujar Tundjung.
Saat ini jalur rel antara Jakarta – Semarang yang sudah double track baru beberapa bagian. Jakarta – Cirebon sudah memiliki double track, Cirebon – Brebes masih single track, Brebes – Petarukan sudah double track, Petarukan – Semarang sedang dalam proses pengerjaan fisik, dan Semarang – Surabaya masih single track. Dengan adanya double track ini, selain bisa meningkatkan jumlah perjalanan kereta api, juga bisa meningkatkan keselamatan. (Humaska)